Perubahan

image

Assalamualaikum wr.wb

Mungkin sudah cukup lama aku udah gak nulis lagi di tumblr ini. Ya memang, aku bukan tipe orang yang suka menulis, pandai menulis, dan memiliki pemikiran cukup luas dan mendalam untuk memulai sebuah tulisan.

Tapi dua hari belakangan ini tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran, mungkin pemikiran ini sudah cukup sering terlintas di pikiran dan jadi bahan pemikiran tersendiri, namun ya, itu semua cukup hanya sebagai angin lalu. Sampai akhirnya pemikiran ini semakin cukup mengusik diri sendiri.

“Kamu, lebih memilih untuk larut dalam sebuah sistem atau membuat sebuah perubahan terhadap sistem tersebut?”

Mungkin banyak yang akan berpendapat, terutama dalam konteks, “apabila sistem tersebut memang bobrok” tentunya mayoritas akan berpendapat untuk melakukan sebuah perubahan. Namun pada kenyataannya, apabila kita melihat ke dunia nyata, melihat kondisi eksisting dunia politik di Indonesia, di dunia, perubahan terhadap suatu sistem merupakan hal yang fana. 

Pernah gak sih kamu ngerasa gerah denger omongan orang “ah namanya juga Indonesia, emang sudah se bobrok itu, mau gimana lagi?”. Sedih gak sih dengernya? Jujur, aku cukup sedih dan gerah. Aku termasuk orang yang kurang suka sama orang yang paling gak suka dengan namanya perubahan, padahal perubahan itu benar-benar sangat diperlukan. 

Maaf sebelumnya jika aku menggunakan negara aku sendiri sebagai contoh hal yang perlu diberlakukannya suatu perubahan. Aku jujur, aku mungkin disini hanya bersikap sebagai masyarakat yang sok-sokkan, karena jujur ilmu aku mengenai politik, hukum, kenegaraan dan semua jenis ilmu lain, aku sangat rendah sangat cetek. Benar-benar masih perlu untuk belajar lebih. 

Bukan bermaksut untuk menyombongkan diri, tapi aku orang yang benar-benar mau belajar untuk bisa mewujudkan sebuah perubahan yang memang patut untuk diperjuangkan. Satu hal yang menjadi pembelajaran berharga buatku, Alhamdulillah di tahun ini diberi kesempatan untuk sedikit memiliki power dalam hal kesejahteraan mahasiswa di dunia kampus. Mungkin lingkupnya pun kecil, hanya sebatas fakultas. Ada suatu hal yang memang telah menjadi pr tersendiri bagi kesejahteraan mahasiswa, khususnya hal mengenai transparansi dana pendidikan. Pendidikan merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Namun kenyataannya, hingga saat ini pendidikan masih menjadi barang yang komersil bagi masyarakat Indonesia. Mungkin pendidikan masih menjadi barang tersier di banyak kalangan masyarakat Indonesia melebihi memiliki smartphone, motor, mobil dan barang-barang mewah lainnya. Alhamdulillah di salah satu kesempatan, Allah membuka sesuatu kejadian yang, mungkin ini hanyalah sebagian kecil, sangat kecil dari bentuk transparansi dana yang berputar di lingkungan universitas dari mahasiswa yang katanya tujuannya untuk “kesejahteraan mahasiswa”. Namun nyatanya, kondisi tersebut memerlukan adanya sebuah perubahan dan Alhamdulillah dengan izin Allah perubahan tersebut dapat terjadi. Ya memang, perubahan yang telah kami ciptakan memerlukan banyak adaptasi tersendiri untuk mengatasi hal baru yang tercipta akibat perubahan tersebut. Namun, insyaAllah perubahan yang dihasilkan lebih banyak menghasilkan manfaatnya dibandingkan mudharatnya

Dari contoh hal kecil tersebut aku langsung selalu memiliki pemikiran, “perubahan itu sangat perlu, dan kalo memang perubahan tersebut memang hal yang patut untuk diperjuangkan, kenapa kita harus takut menjadi bagian yang memperjuangkan perubahan tersebut?”. Namun sayangnya, hingga saat ini cukup banyak orang yang kuajak berdiskusi dan tidak sedikit yang sebenarnya, menolak adanya perubahan itu sendiri. “mba, percuma mba kalo diubah, coba deh liat sekarang, pas udah ada usaha untuk ngelakuin perubahan itu, tapi yang ada, ada lagi muncul hal tersebut dalam bentuk yang baru atau yang lain*”, “duh udah males din ngomongin negara ini”, “ya emang gitu din, mau gimana lagi?”, dan bentuk pernyataan-pernyataan lainnya. Tapi kalo misalkan dari kitanya saja yang bahkan belum mencoba untuk masuk dan memperbaiki, tapi sudah males dan cenderung membiarkan, apa gak akan makin rusak hal-hal tersebut?

Kalau diri kita sendiri aja yang insyaAllah belum terjerumus kedalam hal kotornya ke dalam suatu sistem yang “rusak” tersebut, merasa malas dan membiarkan hal tersebut, lalu siapa lagi? 

Kadang selalu ada pikiran, bukankah hidup itu sebenernya simple. Sangat simple, kita hidup hanya untuk Allah. Tujuan kita hidup untuk kembali ke Allah. Kadang sampai ada pikiran tersendiri, “apakah perlu hidup ini memiliki tujuan seperti menjadi orang besar, presiden, menteri, walikota, anggota dpr, kuliah di luar negri, S2 S3 diluar negri dengan beasiswa, padahal sebenernya tujuan hidup utama itu hanya untuk kembali ke Allah aja”. Allah gak akan melihat hal itu semua bukan? hanya mungkin melihat proses jalan yang kita ambil untuk meraih itu semua. 

Oke bahasan diatas barusan mungkin sedikit keluar jalur dari judul tulisan yang mengenai perubahan. Jadi intinya, selama kita punya Allah, Allah yang akan selalu ngejaga kita dan ngebimbing kita dari hal-hal buruk, kenapa kita takut untuk ngelakuin sebuah perubahan? karena kalau bukan kita yang mulai, kita yang berani, siapa lagi? 


P.S: 

* perbincangan mungkin terbaca sedikit ambigu, karena hanya merupakan reka adegan yang adegan aslinya tidak mungkin dituliskan di tulisan ini :)

* Foto diambil dari salah satu snapgram teman organisasi yang memang pertanyaannya sesuai dengan pertanyaan yang akhir-akhir ini menjadi bahan pemikirian sendiri :)

Rezeki

image

Kali ini, yang menjadi inspirasi untuk menulisku adalah mengenai rezeki. Salah satu teman di perkuliahan pernah bilang, ternyata Allah itu tidak hanya sudah mengatur mengenai kapan kita hidup dan mati saja, namun Allah juga telah menentukan mengenai ketetapan akan rezeki kita sendiri

Oke, mungkin ini adalah hal yang baru aku ketahui, karena sebelumnya yang kupahami mengenai rezeki ditentukan berdasarkan usaha kita sendiri. Rezeki yang disini tentu saja bukan hanya rezeki mengenai materi, namun juga dalam bentukan rezeki non-materil sekalipun. Dengan kepercayaan seperti itu maka pada saat itu, pada saat memiliki pemahaman mengenai rezeki yang sangat rendah, aku hidup dengan tujuan seperti yang sudah digelapkan oleh rayuan kenikmatan duniawi. 

Waktu itu aku masih SMA. Jaman SMA, bahkan sudah dari kelas 1 SMA aku sudah memiliki cita-cita untuk bisa melanjutkan kuliah di salah satu universitas terbaik di dunia. Ya, dengan sombongnya, merasa dirinya sudah sangat cukup ilmu sudah berani untuk mengajukan mimpi untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas terbaik di dunia, yaitu di Singapura, Nanyang Technological University dan juga National University of Singapore. Les-les, mulai dari les untuk mengikuti tes, les bahasa inggris, semua kegiatan itu adalah kenangan terbesarku pada jaman SMA. Setiap hari pulang sampai rumah jam 10 malam. Melanglang buana demi menempuh les di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara dari sekolah yang berlokasi di Jakarta Selatan dan rumah yang berada di Tangerang Selatan. Ya kehidupanku memang lebih banyak dihabiskan di jalan setiap harinya.

Mungkin kalo diliat, perjuanganku memang sudah segila itu. Kadang cukup sering memboloskan diri dari sekolah hanya untuk belajar dirumah untuk mengikuti quiz di tempat les. Underline, bold, hanya untuk mengikuti quiz di tempat les. Namun semua perjuangan gila ku itu, tidak aku imbangi dengan mendekatkan diri kepada Allah. Iya aku sholat, aku berdoa terus kepada Allah, mungkin hingga menangis, memohon dengan seringnya, namun baru disadari, semua itu bukan karena aku sepenuhnya ikhlas dan berserah diri ke Allah, namun seperti malah lebih takut kepada cita-citaku itu, takut kalo gak kesampean mikirnya kayak udah gak semangat lagi. Dan ternyata akhirnya ya Allah memberikan aku rezeki dalam bentuk lain. Mungkin bukan kuliah di NTU ataupun NUS tapi di Universitas Diponegoro Semarang, namun Alhamdulillah pengalaman dan kebahagiaan yang aku dapet disini benar-benar gak bisa berhenti buat aku bersyukur.

Oke mungkin itu sedikit (banyak) cerita tentangku mengenai rezeki. Tapi sebenarnya yang lebih aku ingin share adalah cerita mengenai rezeki para pegawai ojek konvensional maupun online. Mungkin di Jakarta, hal ini sudah menjadi fenomena yang sangat besar. 

Kejadian tadi pagi adalah, aku melihat seorang bapak pengendara ojek online yang kukira mungkin umurnya sudah sekitar 55-an keatas mungkin juga sudah 60-an, beliau sedang di bully dengan tukang ojek konvensional sekitarnya dan tukang bajaj dikarenakan beliau mengambil penumpang di tempat yang tidak seharusnya. Jadi setelah yang pernah kutanyakan pada beberapa tukang ojek online, hampir di seluruh stasiun, tukang ojek online dengan tukang ojek konvensional telah melakukan suatu perjanjian bahwa pangkalan ojek untuk para tukang ojek online selalu berjarak beberapa meter (kurang lebih 3-5 meter) dari lokasi stasiun. Sehingga sangat dilarang keras ada tukang ojek online mengambil pelanggan di sekitaran stasiun. Saat tukang ojek online ditanya pendapatnya mengenai perjanjian itu, jawabannya adalah, sejujurnya dia merasa tak apa. Tukang ojek online dengan sabarnya merasa hal tersebut sudah cukup adil. Bila ada tukang ojek online yang memacu keributan dengan mereka, mereka lebih memilih mundur dan kalah karena mereka  sejujurnya juga merasa tidak enak kepada para tukang ojek konvensional seperti merasa telah mengambil rezeki pelanggan mereka.

Padahal kalau kita percaya dengan Allah sepenuhnya dan sudah memahami bahwa rezeki sepenuhnya sudah diatur oleh Allah, semua fenomena ini tidak akan terjadi. Tidak ada perpecahan antar masyarakat karena fenomena ojek online ini

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang melapangkan rejeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pula) yang membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman”. ( QR. Ar Rum : 37 )

Rezeki itu tidak akan tertukar. Mungkin tanpa adanya ojek online ini, bila Allah telah berkehendak bahwa rezeki para tukang ojek konvensional akan merusut maka, kun faya kun, maka jadilah. Tetapi apabila Allah telah mengatur rezekinya, pasti Allah akan membukaan pintu rezeki lain bagi hambanya tersebut.

Andai saja banyak para pegawai ojek baik yang konvensional maupun yang online memiliki fikiran seperti itu, pasti fenomena ini gak terjadi. Mereka bisa hidup berdamping-dampingan dengan rukun. 

Kasian bapaknya, kepikiran orangtua sendiri kalo yang digituin gimana :’(


D.L.

On this last Friday of Ramadan I hope Allah replaces your sadness and worries with happiness and content. I hope Allah eases your hearts and makes them soft to one another. I hope Allah opens all the doors that you’ve worked for and hoped for. I hope this Ramadan we’ve let go of our egos and replaced them with forgiveness and genuine happiness for one another. May Allah bless this Friday and may we live to see another Ramadan ❤️

(Source: thebeautyofislam)

mengenang Khadijah, perempuan paling terhormat di muka bumi. (via miring)

Randomly Beautiful

10 ramadhan adalah hari meninggalnya Sayidah Khadijah, ummul mukminin. sejarah Rasul dengan Khadijah bukan sejarah romantisme seperti kisah dengan Aisyah. kisah Khadijah adalah pengorbanan tak kenal batas demi tegaknya agama islam, khadijah wanita bangsawan itu melepaskan harta dan segala kemuliaan dunia demi perjuangan nabi dan meninggal dengan kain yang penuh tambalan kulit kayu tanpa menyisakan kain kafan yang pantas. hingga Rosul wafat, beliau menempatkan sang istri ditempat terhormat, Aisyah tidak dapat menggantikan posisi Khadijah di dalam hati Rosul. begitu besar kehilangan Rosul atas Khadijah “hingga” untuk menghiburnya Allah memberi hadiah perjalanan Isra Mi'raj.

mengenang khadijah adalah menyelami bagaimana islam tumbuh dalam pertentangan yang keras, Khadijah tak sempat melihat bagaimana islam yang dia perjuangkan dengan mengorbankan semua hartanya tumbuh dan menguasai makkah dan madinah. sebagai istri dialah perempuan pertama, manusia pertama yang masuk islam, perempuan yang menyelimuti Rosul saat mengigil dari gua hira. perempuan tangguh yang percaya pada kenabian suaminya saat seluruh dunia menggapnya orang gila dan penyamun.

Dia yang Sudah Akan Pergi

image

Tanpa terasa, malam ini sudah malam terakhir seluruh umat Islam di Indonesia melaksanakan shalat sunnah 8 rakaat, baik dengan bentuk 2 rakaat salam 2 rakaat salam maupun 4 rakaat salam 4 rakaat salam. Tanpa terasa, malam ini adalah malam terakhir bagi seluruh umat Islam di Indonesia harus bangun pagi-pagi buta, melaksanakan sahur, dalam keadaan setengah sadar, ditemani acara-acara komedi sahur di televisi. Malam ini, tanpa terasa adalah malam terakhir untuk melakukan setiap kebaikan, setiap kebajikan akan langsung diberi ganjaran oleh Nya dengan ganjaran berkali-kali lipat, berbeda dari hari-hari biasanya.

Para ulama, para penceramah, para ustad dan ustadzah baik di masjid, di radio, media sosial, di acara tv hampir semuanya sudah mulai menyampaikan ceramah mengenai indahnya hari kemenangan, setelah 30 hari umat Islam melaksanakan ibadah puasa, menahan lapar dan dahaga, melawan hawa nafsu diri, berlomba-lomba dalam kebaikan setiap harinya.

Tapi, apakah iya aku, kamu, kita semua sudah pantas merayakan hari kemenangan yang akan datang beberapa hari lagi ini? apakah kita sudah pantas bersenang-senang, bergembira, dan melaksanakan sunnah nabi untuk merayakan dengan penuh suka cita akan hari kemenangan terbesar umat Islam lusa?

Apakah aku sudah cukup melakukan tadarus di bulan ini? apakah aku sudah cukup melakukan ibadah sunnah di bulan ini? apakah aku sudah cukup melakukan kebaikan di bulan ini? apakah aku sudah pernah melakukan i’tikaf di bulan ini? apakah Allah menerima puasaku di bulan ini? Apakah seluruh ibadahku dapat diterimaNya di bulan ini? apakah aku mendapatkan lailatul qadar Mu di bulan ini?

Ya Allah… bila dilakukan refleksi kepada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan diatas dapat kujawab dengan jawaban belum, Semuanya dirasa masih belum cukup. Masih sangat kurang. Dan apakah aku akan masih bisa menemui mu di tahun depan nanti? apakah aku masih diberi umur untuk bertemu dengan mu di tahun depan nanti? 

Ya Allah…betapa indahnya bulan ini. Engkau Yang Maha Adil, menurunkan bulan penuh berkah ini kepada seluruh umat muslim di dunia  karena dengan turunnya bulan ini, engkau memberi kesempatan bagi kita untuk dapat menanam pahala besar-besarran seakan-akan kami berada di tanah suci Mu Ya Allah

Selamat jalan Ramadhan, Semoga kita dapat bertemu lagi di tahun berikutnya :’)


D.L

Pendidikan Berkeadilan

image

Kenapa sih, sistem pendidikan di Indonesia itu bisa semahal itu?

Baru-baru ini pikiran seperti itu terlintas di pikiranku.

Ya baru-baru ini. Mungkin selama ini aku masih terlalu gelap mata akan keadaan sekitar, padahal bisa dibilang sudah kurang lebih 2 tahun aku terjun di suatu lingkungan yang memperjuangkan kesejahteraan mahasiswa, yang tentunya aspek pendidikan lah yang menjadi fokus pembahasan kami dalam mewujudkan kesejahteraan mahasiswa. Tentu saja karena yaa kami juga masih hanya sebatas mahasiswa.

“Saya tidak tau UKT berkeadilan itu apa? Apakah kehidupan PNS itu serba kecukupan? Dan apakah semua petani dan pedagang kehidupannya serba kekurangan? mari kita saksikan siapa yang akan naik mobil pribadi dan naik motor mewah, anak dari para petani berdasi dan pedagang yang memiliki penghasilan puluhan bahkan ratusan juta yang memiliki golongan UKT rendah atau anak-anak PNS yang memiliki golongan UKT tinggi”

Mungkin itu sedikit keluhan dari salah satu anak yang tentu saja tak mungkin kusebutkan identitasnya mengenai sistem UKT di universitasnya. Tulisannya tersebut benar-benar sangat menyentil menurutku. Aku yang selama ini mungkin tidak pernah terlalu terfikirkan akan betapa sulitnya untuk meraih suatu pendidikan begitu merasa tertegun dan bersalah membacanya. Aku merasa bersalah, karena aku sebagai salah satu fasilitator yang mungkin bisa memperjuangkan hak nya untuk mendapatkan pendidikan yang tidak menjadi beban bagi keluarganya, namun tidak berhasil karena terbentur akan sebuah sistem dan birokrasi. 

Disini aku belum bisa menyalahi sepenuhnya birokrasinya itu sendiri, karena birokrasi tersebut sudah terikat suatu sistem yang lebih tinggi dan lebih kompleks diatasnya, jadi yaa kita bisa berbuat apa? 

Tapi yang aku mau tanyakan, sampai kapan sistem pendidikan di Indonesia akan terus menjadi beban seperti ini, khususnya untuk rakyat-rakyat yang kekurangan. Semua mimpi orang tua,baik golongan menengah keatas hingga golongan menengah kebawah itu sama, ingin menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi orang sukses melebihi orang tuanya, dengan satu harapan mulia tentunya, mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia dan sejahtera daripada kehidupan orang tuanya sendiri. Namun, beban yang harus ditanggung tiap-tiap orang tua sangatlah berat. Seorang petani yang memiliki penghasilan kurang lebih tiap bulannya sekitar 1 juta rupiah mendapatkan beban untuk menyekolahkan anaknya 1-2 juta tiap semesternya, bahkan ada juga yang harus merogoh kocek hingga 7 juta. Darimana mereka bisa mendapatkan uang setinggi itu dimana bahkan untuk kehidupan sehari-harinya sangat pas-passan?

Padahal salah satu hal dasar untuk meningkatkan kesejahteraan suatu negara adalah dengan meningkatkan tingkat pendidikan masyarakatnya.

Jujur, ini selalu menjadi pr bagi bahkan untuk ruang lingkup terkecil, bidang kesejahteraan mahasiswa di tiap-tiap universitas dan hingga lingkup kenegaraan pun yaitu menteri pendidikan dan bapak presiden sendiri. Sampai kapan, kita bisa menjawab bahwa pendidikan (formal khususnya) merupakan hak seluruh warga negara Indonesia dan tentunya sekaligus menjawab pula sila kelima dari pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

-to be continued-


D.L.

Islam, Politik dan Hukum

image

Assalamualaikum semuanya. Ternyata gak perlu rentang waktu yang cukup lama buat aku bisa punya bahan buat isi tumblr ku lagi.

Mohon maaf sebelumnya bila pernyataan yang saya berikan sangat miskin ilmu karena jujur saya sendiri tidak terlalu mengerti hukum, politik bahkan mengenai Islam, karena saya hanyalah seorang mahasiswi muslim yang sangat miskin ilmu dan masih sangat butuh belajar baik mengenai ilmu hukum, politik hingga ilmu agama. Disini saya jujur hanya ingin mengungkapkan pendapat saya saja.

Akhir-akhir ini, mungkin bisa dibilang beberapa bulan terakhir, gak cuman minggu-minggu terakhir aja, permasalahan politik di Jakarta lagi panas-panasnya, dan permasalahan politik ini disangkut-pautkan dengan isu-isu SARA yaitu membawa permasalahan agama

Jujur, sebagai pembaca yang cukup setia mengenai opini masyarakat (mungkin lebih ke mahasiswa) tentang pandangan mereka mengenai isu Ahok ini, rasanya sedih banget. Permasalahan politik yang lagi bergelut di jakarta, terlalu membawa hal yang berbau SARA. Memang, Indonesia memang bukan negara Islam. Indonesia menganut asas pancasila yang bahkan sila pertamanya sangat menggambarkan ke bhineka tunggal ika-an masyarakat Indonesia bahkan dalam hal agama pun, walaupun mungkin mayoritas masyarakatnya beragama Islam. 

Sebenernya disini jujur saya berada di sisi sebagai seorang pengamat, yang juga tidak terlalu intens mengikuti perkembangan beritanya mengenai permasalahan penistaan agama ahok. Karena yaa saya tidak pernah melihat berita mengenai liputan sidangnya secara live, mengikuti perkembangan kasusnya dan sebagainya, saya hanya benar-benar mengikuti perkembangan beritanya dari timeline di line.  

Tapi saya punya satu keyakinan, yang mungkin banyak orang yang akan menganggap bahwa saya orang yang intoleran, bahwa saya percaya dengan sepenuhnya akan agama yang saya ikuti. Sama seperti kalian semua yang menganut agama lain selain agama Islam, dan tentu saja saya juga merasa tidak terima Tuhan yang saya cintai, yang firmannya telah menjadi pedoman hidup saya dihina dan dianggap sebagai suatu hal yang tidak baik untuk dijadikan sebagai pedoman. Menurut saya hal tersebut sudah benar-benar menistakan agama Allah dan masyaAllah dengan izin Allah banyak orang Islam yang ternyata hatinya juga merasakan hal yang sama dan untuk pertama kalinya terjadinya suatu aksi damai terbesar mungkin setelah beberapa tahun di Indonesia dengan tujuan hati yang sama karena merasa tidak terima agama yang dicintainya dan insyaAllah diyakini sepenuh hati di hina dengan mudahnya. 

Banyak juga sumber yang mengatakan bahwa kejadian tersebut berasal dari video yang tersebar secara viral saat Ahok melakukan suatu pernyataan yang seakan-akan menistakan agama Islam, namun itu semua hanya video editan untuk memprovokasi. Namun, tetap saja menurut saya, baiknya siapapun orangnya dan bahkan agamanya, janganlah pernah membuat suatu pernyataan yang menyinggung hal berbau SARA, apapun itu tujuan dibalik pernyataannya tersebut, 

Dari munculnya isu tersebut, munculah aksi-aksi damai umat Islam yang merasa tidak terima akan perilaku mantan orang nomor 1 di DKI Jakarta. Pada saat aksi tersebut beraksi, merasa takjub karena seperti akhirnya benar-benar bisa merasakan, seluruh umat Islam itu bersaudara, bila tubuhmya disakiti, maka organ-organ lainnya secara bersama-sama tanpa disuruh, secara otomatis seperti sebuah imun, akan berusaha untuk melindunginya. Namun ternyata permasalahan besar lainnya menimpa agama Islam. Sekarang seperti dirasa banyak masyarakat jakarta, indonesia hingga dunia yang menganggap bahwa tindakan yang dilakukan orang islam kemarin terlalu berlebihan dan telah meneror kedamaian di jakarta. Masyarakat nonis menjadi tidak bebas untuk bergerak, islam dianggap sebagai negara yang sangat intolerir, dan negara yang keras.

Padahal, walaupun jujur, ilmu saya akan Islam, benar-benar masih sangat rendah, Namun, yang saya yakini bahwa politik sendiri sudah ada sejak jaman khalifah dan Islam bukan hanyalah suatu agama yang hanya mengatur hubungan antara Sang Pencipta dengan makhluknya, namun dengan sesama makhluk hidup. Rasulullah selalu mengajarkan bahwa jangan pernah memisahkan agama dengan perkara dunia karena dengan tuntunan dari agama lah perkara dunia kita dapat menyelesaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Apabila seluruh manusia mampu mengimplementasikan ajaran agama Islam dalam segala aspek kehidupannya, dengan keyakinan penuh insyaAllah dunia ini akan damai.

Namun, sayangnya bahkan masyarakat Indonesia sendiri yang memiliki status keagamaan sebagai masyarakat muslim, mulai berpikir dan bertindak layaknya kaum liberal, membudayakan sekulerisme. Padahal, ya Allah, kenapa saya merasa bahwa permasalahan ini semua berangkat dari paham sekulerisme. Kadang entah kenapa ngerasa sedih, ngeliat masyarakat Islam mengatakan pendapat, dia sedih dengan perilaku umat Islam di Indonesia yang fanatik seperti melebih-lebihkan permasalahan Ahok seperti menganggap umat Islam memiliki pandangan bahwa korupsi itu dibolehkan oleh pandangan masyarakat Islam selama orang yang korupsi tersebut tidak pernah melakukan penistaan terhadap agama Islam. Seperti yang kami lakukan ini untuk membela agama kami yang dihinakan, sangatlah memalukan dan berlebihan.  Terdapat pula muncul-muncul pemahaman bahwa bhinneka tunggal ika harga mati, saya bukan mendukung suatu etnis ataupun agama tapi saya mendukung terhadap suatu keragaman

Sebenarnya disini tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Dan jujur disini saya juga netral, benar-benar netral karena kalo berdasarkan hukum, ada rasa yang menyatakan bahwa Ahok bisa mendapatkan jatuhan hukuman penjara 2 tahun, namun banyak orang diluar sana yang melakukan tindakan korupsi besar-besarran, namun mendapatkan ganjaran hukuman yang tidak setimpal dengan apa yang telah dilakukannya. 

Tapi yang saya sedihkan luar biasa adalah, saya merasa Islam benar-benar dizhalimi karena permasalahan ini. Kenapa dunia luar bisa ikut campur bahkan UN sendiri memberikan sebuah pernyataan yang seakan-akan menyudutkan masyarakat Islam di Indonesia terlalu radikal dan gugatan hukum yang dilayangkan ke Ahok perlu ditinjau ulang, dan sekali lagi UN membawa nama Islam didalamnya. Ya memang permasalahan ini membawa nama agama Islam, namun pernyataan tersebut menurut saya sangat menjatuhkan citra agama Islam. 

Agama suci yang hingga saat ini selalu dizhalimi seperti dianggap sebagai agama teroris hingga keberadaannya tidak diterima di negara-negara seperti Amerika. Lalu keberadaan umat Islam yang Myanmar yang sangat dibinasakan. Ya Allah, apakah pernah umat Islam melakukan tindakan yang keji terhadap agama yang lain, apakah pernah ada di berita suatu negara dengan mayoritas masyarakat Islam melakukan kejahatan seperti pembinasaan dan pengusiran besar-besarran terhadap suatu agama selain Islam, adanya pelarangan bagi masyarakat non-islam untuk tinggal di suatu negara mayoritas mulim? 

Ya Allah, lindungilah kami umat Islam ya Allah dari segala fitnah. Maafkan kami apabila kami belum mampu menjaga nama baik Islam seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah mampu membawa nama baik Islam hingga ke berbagai belahan dunia


D.L.

Sumber Senyumku di Kala Senjaku

image

Assalamualaikum semuanya,

mungkin ini gambar pembuka yang jadi awalan cerita kali ini

Mungkin gambar ini belum bisa nunjukkin semua orang yang entah kenapa, entah mungkin apa karenanya penulisnya kah yang terlalu baper atau gimana atau terlalu gampang sayang sama orang atau gimana, tapi bener-bener bersyukur banget, dengan adanya mereka rasanya jadi tempat buat bisa numpahin segala penatnya kuliah, tugas-tugas, beban hingga penat-penat lainnya.

Kita ini totalnya ada 16 orang, yang mungkin difoto kalo diliat hanya ada 11 orang, 5 orangnya lagi saat itu 3 orang ada yang masih tidur, 1 orang ada yang jadi juru kamera (dan makasih banget vivi walaupun mungkin fotonya gak full tapi aku suka banget foto ini, view nya bagus banget dan aku suka setiap mimik wajah orang yang ada disini, relax, santai, damai, tenang, pokoknya the best lah) dan 1 orang lagi ada yang lagi mandi karena terlalu sudah terlalu termakan akan ajakan dari lagu anak-anak yang seperti mengajarkan untuk selalu bangun tidur dan diharuskan mandi (maaf kalo sedikit receh)

Sebenernya, siapa sih mereka. Mereka semua adalah anggota Kesma BEM FT 2017. Dan Alhamdulillah, jujur, aku gak akan pernah bisa berhenti bersyukur sama Allah karena, aku bisa mendapatkan mereka semua buat jadi anggota Kesma BEM FT periode 2017 ini.

Mungkin, tahun ini udah di tahun terakhir buat bisa tetep ikut organisasi dan sekali lagi Alhamdulillah banget masih dikasih kesempatan lebih buat bisa belajar lebih jauh lagi, baik buat ngebina Kesma BEM FT dan juga ngebina orang-orang yang ada di dalamnya. 

Waktu masih staff dulu, ada salah satu litbang yang mungkin menurutku sebagai salah satu litbang terbaik yang pernah ada di BEM FT Undip. Dia adalah litbang dari departemen kebijakan publik. Namanya mba putrifuu. Tentu saja dia belum kenal sama aku, begitu pula sebaliknya karena aku sendiri belum pernah berpapasan ataupun sekedar  bertegur sapa dan berkenalan, tapi pernah suatu hari aku baca post-an di ig nya dan dia menuangkan perasaan dia menjadi seorang litbang dari departemen kebijakan publik. Walaupun hanya sekedar kumpulan kata-kata, bisa dibilang cukup panjang, namun benar-benar dapat menggambarkan betapa bersyukurnya dia, bahagianya dia dan sayangnya dia dengan orang-orang di departemennya tersebut. 

Pada saat masih menjadi staff, yang menjadi bayanganku “Ya Allah, indahnya bisa memiliki keluarga baru seindah dan sebahagia itu di dunia organisasi”, namun untuk penjelasan lainnya mengenai betapa Mba Putrifuu ini bisa menjadikan lingkungan kecil di organisasi tersebut menjadi rumah kedua baginya, tempat dia pulang buat ngelepas semua penat dia, padahal dia memiliki tanggung jawab yang tinggi dan tentunya memiliki beban yang lebih berat pula, baik beban di organisasi maupun di perkuliahan seiring dengan semakin tua nya semester di bangku perkuliahan.

Namun, mungkin gak akan pernah aku bisa berhenti bersyukur, bener-bener gak bisa berhenti bersyukur, Alhamdulillah sekarang aku bisa ngerti perasaan yang dimaksut sama mba fuu itu sendiri, Perasaan, anehnya mungkin seperti perasaan sayang keibuan yang ingin semua anak-anak yang ada di bawahnya bisa dia bimbing dan menjadi orang yang sukses dan berhasil, perasaan yang, hanya karena melihat mereka ketawa, ngelucu receh, kumpul-kumpul bareng, bahagia, dan dengan sendirinya, juga ikut bahagia. Perasaan yang rasanya, kayak punya 14 anak beneran dan pengen bener-bener dibesarin satu-satu dan bisa jadi anak-anak yang berhasil.

Kesma, terimakasih ya, mungkin aku udah terlalu sering ngebuat kalimat ini, entah di line, di instagram, dan mungkin sekarang disini, tapi aku memang jujur gak akan bisa berhenti bilang makasih, makasih dimana sudah hampir berjalan setengah periode kepengurusan ini kalian terus tunjukkin semangat kalian, dedikasi kalian dan komitmen kalian buat kesma. Jujur aku seneng banget, sama burhan bisa bawa kesma ini, ya jadi seperti sekarang ini, walaupun setengah keberjalanan waktu belum ada, tapi bisa dibilang kita selalu ditimpa suatu permasalahan, mulai dari awal setelah raker kita sama-sama, bareng-bareng dihadapin permasalahan wisuda, sekarang kita lagi sama-sama ngadepin persiapan pembuatan tim pokja satgas UKT dan juga pengkajian isu mengenai UKT semester 9, dan tapi kalian selalu ada buat kesma, walaupun aku tau kalian semua itu mungkin udah mulai pada lelah ataupun jenuh.

Nak, jangan pernah ya kalian ngerasa jenuh, lelah itu wajar. Kalo kalian ngerasa perlu waktu untuk istirahat, untuk rehat sejenak, bilang aja ya, jangan sampe hanya kalian pendam dan jadinya rasa semangat kalian untuk kesma pudar. Kita memang bukan bidang yang kegiatannya nyelenggarain proker besar-besarran, kita bahkan mungkin juga bukan bidang yang cukup memiliki nama yang bergengsi karena ya kita ini hanyalah bidang yang bekerja di belakang layar, namun insyaAllah kita ini bidang yang paling mulia karena selalu berusaha untuk mengedepankan kesejahteraan mahasiswa, bidang yang kerjanya mungkin paling gak bisa dilihat hasilnya secara fisik sehingga paling jarang mendapatkan apresiasi, tapi insyaAllah, kalo kita bisa terus ikhlas ngejalanin ini semua untuk terus perjuangin kesejahteraan mahasiswa FT, insyaAllah kita akan bisa dapet apresiasi dari Yang Maha Pemberi Apresiasi langsung


D.L.

(via suhaib93)

(Source: gardenofsculptures, via suhaib93)

(via islamicbelief)

Amin

(via dunyatraveler)

(Source: extraordinary-lover, via thebeautyofislam)

Randomly Beautiful

I get so scared that death will come to me when my imaan is low. I pray that Allah swt takes us when He is most pleased with us. In shaa Allah Ameen.

Muslim Culture

formyummah:

Muslim culture is having 85% of the mosque’s population at the hospital waiting room when your grandma has a heart attack. It’s when your uncle passes in a different country so everyone comes over to your house with food and condolences, even the family you’re having drama with.

Muslim culture is packed parking lots where old men are guiding traffic with their canes but actually making traffic slower because they stop each car to ask the driver how their family is. It’s when your car gets a flat tire for the first time and so everyone helps put on the spare.

Muslim culture is fighting over the bill at a restaurant and dropping off meat at the masjid with a sign marked “For anyone who needs a meal”.

Muslim culture is free henna nights the day before Eid and kids passing out candy the day of. It’s when the sweets that are being handed out are from Bosnia but also Benin and also Syria.


Muslim culture is so much more than what you see on the media. Muslim culture is definitely not perfect, but it’s also definitely not what we’ve been told to believe it is.

(via thebeautyofislam)

alixanasworld:
“المسجد النبوي، المدينة المنورة، السعودية
”

alixanasworld:

المسجد النبوي، المدينة المنورة، السعودية

islamic-reflections:
“ masjid nabawi
”

islamic-reflections:

masjid nabawi

(via islamic-reflections)

Reblog 2 years ago 2 years ago 2 notes
Loading...